Ekspor Batu Bara Lumpuh, Surplus Perdagangan Bengkulu Januari 2026 Anjlok Drastis 94 Persen
Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Win Rizal--(Sumber Foto: Ilham/BETV)
BENGKULU, BETVNEWS – Kinerja ekspor Provinsi Bengkulu mengawali tahun 2026 dengan catatan merah. Meski neraca perdagangan masih menunjukkan angka surplus, nilainya merosot tajam akibat nihilnya aktivitas pengiriman komoditas tambang dan mineral ke luar negeri.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, surplus perdagangan pada Januari 2026 hanya menyentuh angka US$1,02 juta.
Capaian ini terjun bebas sebesar 94,70 persen jika dibandingkan dengan Januari 2025 yang sempat mencapai US$19,19 juta.
Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Win Rizal, mengungkapkan bahwa faktor utama anjloknya nilai surplus ini adalah hilangnya aktivitas ekspor pada golongan bahan bakar mineral.
BACA JUGA:Nasib Harmizal Warga Kepahiang Terjebak di Kamboja, Pemprov Bengkulu Lacak Status di KBRI
"Pada Januari 2026, ekspor bahan bakar mineral serta biji dan buah mengandung minyak tercatat turun hingga 100 persen. Tidak ada aktivitas ekspor untuk komoditas ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu," jelas Win Rizal, Kamis (5/3/2026).
Kondisi ini diperparah dengan penurunan drastis pada sektor industri pengolahan sebesar 38,01 persen, yang dipicu oleh melandainya ekspor kayu, piranti lunak, hingga barang digital. Sektor pertambangan secara keseluruhan bahkan mencatatkan penurunan fantastis sebesar 99,86 persen.
Di balik tergerusnya angka ekspor tambang, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan justru menunjukkan anomali positif. Sektor ini meroket hingga 16.228,35 persen, didorong oleh peningkatan pengiriman komoditas pertanian lainnya ke pasar global.
BACA JUGA:Warga Bengkulu di Jabodetabek Merapat! Kemenhub Siapkan Bus Mudik Gratis dari Depok 17 Maret
BACA JUGA:Tindak Lanjut Kunjungan Fadli Zon, Pemprov Bengkulu Usulkan 3 Objek Ini Jadi Cagar Budaya Nasional
Sementara itu, dari sisi mitra dagang, Thailand masih mendominasi sebagai tujuan utama ekspor Bengkulu dengan kontribusi sebesar 72,05 persen (US$0,73 juta), disusul Amerika Serikat (17,68 persen), dan Tiongkok (8,18 persen).
Win Rizal mengingatkan bahwa struktur ekonomi Bengkulu masih sangat rapuh karena terlalu bergantung pada komoditas tertentu.
“Fluktuasi ini membuktikan bahwa ketika komoditas utama berbasis sumber daya alam tidak bergerak, dampaknya langsung memukul total nilai perdagangan daerah kita,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
