Bank Indonesia

Kiamat Kabel hingga Ancaman Nuklir: Sikap Indonesia di Tengah Dunia yang Terbelah

Kiamat Kabel hingga Ancaman Nuklir: Sikap Indonesia di Tengah Dunia yang Terbelah

Kiamat Kabel hingga Ancaman Nuklir: Sikap Indonesia di Tengah Dunia yang Terbelah--(Sumber Foto: Doc/BETV)

BENGKULU, BETVNEWS - Bayangkan tiba-tiba seluruh layanan digital berhenti. Ponsel tak lagi menerima pesan, sistem perbankan lumpuh, perdagangan saham membeku, hingga bandara kacau karena sistem navigasi mati.

Di saat bersamaan, sirene peringatan nuklir terdengar di berbagai belahan dunia. Gambaran ini bukan sekadar imajinasi, melainkan skenario yang bisa terjadi ketika konflik global, khususnya ketegangan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mencapai titik ekstrem. Dalam kondisi seperti ini, Indonesia tidak bisa sekadar menjadi penonton.

BACA JUGA:Pelajaran dari Kebakaran Kebun Keling, Damkar Kota Bengkulu Minta Warga Siapkan APAR dan Putus Arus Listrik

BACA JUGA:Terima Laporan Kelapa Dijual Rp20 Ribu, Dispar Kota Bengkulu Sidak Pedagang Nakal yang Langgar HET

Babak 1: Terputusnya Nadi Digital Global

Sebagian besar komunikasi dunia sekitar 98 persen bergantung pada kabel bawah laut yang membentang di dasar samudra, termasuk di wilayah Indonesia yang menjadi jalur penting konektivitas global. Jika infrastruktur ini diserang, dampaknya akan meluas dengan cepat.

Gangguan pertama akan terasa pada ekonomi digital. Sistem pembayaran, e-commerce, hingga layanan keuangan lintas negara berpotensi lumpuh. Indonesia sendiri memiliki keterbatasan dalam perbaikan kabel laut. Dari puluhan kapal perbaikan di dunia, hanya segelintir yang tersedia di dalam negeri, itupun dengan kemampuan terbatas dan tanpa kepemilikan nasional. Regulasi yang ketat juga membuat proses perbaikan semakin lambat.

Jika Iranyang menguasai pintu masuk Selat Hormuz menyerang infrastruktur kabel strategis di kawasan, dampaknya akan berantai seperti efek domino.

BACA JUGA:Cegah Bantuan Salah Sasaran, Rumah Keluarga Pra Sejahtera di Bengkulu Selatan Bakal Dipasang Tanda Permanen

BACA JUGA:Tembus 65 Ribu Orang, Kunjungan BenMall Tahun Ini Pecahkan Rekor Lebaran Sebelumnya

Pertama, ekonomi digital akan lumpuh. Bayangkan skenario seperti pemadaman Bali pada Mei 2025 akibat kerusakan kabel listrik bawah laut Jawa-Bali, yang melumpuhkan pariwisata, transportasi, dan sistem pembayaran digital selama berjam-jam. Kali ini skalanya global: e-commerce, perbankan digital, hingga sistem pembayaran lintas negara akan mengalami kegagalan massal.

Kedua, Indonesia akan terlihat sangat rapuh. Dari 63 kapal perbaikan kabel yang beroperasi di dunia, hanya empat yang terdaftar di Indonesia dan hanya tiga di antaranya yang benar-benar dapat melakukan perbaikan, bahkan tidak satupun dimiliki oleh entitas dalam negeri. Regulasi kabotase yang ketat memperparah situasi, karena kapal asing dilarang beroperasi di perairan Indonesia tanpa izin khusus. Akibatnya, jika kabel diputus, perbaikannya bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

"Indonesia menghadapi kelemahan regulasi dan operasional yang merusak ketahanan sistem kabel bawah lautnya," tulis analis dalam laporan South China Morning Post. Artinya, di saat negara lain mungkin sudah pulih, Indonesia masih terperosok dalam kegelapan digital.

BACA JUGA:Jaga Kondusivitas Wisata Lebaran, Satpol PP Bengkulu Selatan Sebar Personel di Titik Keramaian

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: