Peran Pemuda dalam Berperilaku Literasi Digital di Tengah Disinformasi
Peran Pemuda dalam Berperilaku Literasi Digital di Tengah Disinformasi--(Sumber Foto: Tim/BETV)
BENGKULU, BETVNEWS - Di ruang digital hari ini, arus informasi bergerak sangat cepat, tetapi tidak semuanya dapat dipercaya. Konten yang sensasional sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan informasi yang telah diverifikasi.
Akibatnya, masyarakat mudah membentuk persepsi berdasarkan informasi yang belum tentu benar. Fenomena ini semakin sering terjadi. Informasi yang tidak jelas sumbernya kerap langsung dipercaya dan dibagikan tanpa pertimbangan. Masalah utama bukan lagi kekurangan informasi, melainkan banyaknya informasi yang tidak tersaring dengan baik.
BACA JUGA:Sumbangan Kolektif ASN dan Pejabat, Pemkot Bengkulu Berhasil Himpun 71 Ekor Sapi Kurban
Pemuda sebenarnya memiliki posisi penting dalam menentukan sehat atau tidaknya ruang digital saat ini. Namun, banyak pemuda justru menjadi kelompok yang paling mudah terpengaruh oleh disinformasi karena tingginya penggunaan media sosial setiap hari.
Disinformasi atau hoaks dapat dengan mudah menyebar melalui media sosial karena masih banyak pengguna yang belum memiliki kemampuan literasi digital secara baik dalam menyaring dan memverifikasi informasi. Oleh sebab itu, perilaku literasi digital perlu diterapkan agar masyarakat, khususnya pemuda, mampu menggunakan media digital dengan lebih bijak, kritis, dan bertanggung jawab.
Perilaku literasi digital dapat diwujudkan dengan membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi, mencari sumber berita yang terpercaya, serta tidak langsung menyebarkan informasi yang belum jelas fakta dan keakuratannya.
BACA JUGA:Rabu Besok, Pemkot Bengkulu Fasilitasi Salat Iduladha di Masjid Merah Putih dan At-Taqwa
Jumlah pengguna internet di Indonesia yang sangat besar membuat situasi ini semakin kompleks. Kondisi ini membuat masyarakat sering menerima informasi secara instan tanpa proses berpikir kritis. Berdasarkan laporan We Are Social (2024), lebih dari 200 juta penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet dan sebagian besar aktif menggunakan media sosial setiap hari. Informasi terus mengalir tanpa henti, sementara kemampuan untuk memverifikasi tidak selalu mengikuti.
Media sosial saat ini sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Banyak orang lebih sering memperoleh informasi dari media sosial karena dianggap lebih cepat dan mudah diakses. Menurut Anthony Giddens, perkembangan teknologi membuat kehidupan masyarakat modern semakin dekat dan bergantung pada media digital. Namun, kondisi tersebut juga membuat masyarakat lebih mudah dipengaruhi oleh berbagai informasi yang terus muncul di media sosial setiap hari.
Ditambah lagi, algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna, sehingga mempersempit sudut pandang dan menciptakan ruang gema informasi.
Dampaknya tidak hanya pada cara berpikir, tetapi juga pada kondisi psikologis, terutama bagi generasi muda. Paparan informasi yang tidak jelas kebenarannya juga dapatbmemengaruhi kondisi psikologis masyarakat, terutama generasi muda. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa disinformasi memiliki dampak terhadap kesehatan mental. World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa paparan informasi yang tidak akurat dan berlebihan dapat menimbulkan tekanan emosional dan kebingungan dalam memahami realitas.
Data tersebut menunjukkan bahwa disinformasi bukan lagi masalah kecil di media sosial, tetapi sudah menjadi persoalan sosial yang memengaruhi pola pikir masyarakat. Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia mencatat sekitar 1.890 konten hoaks yang beredar hingga tahun 2025, dan sebagian besar pengguna internet pernah terpapar informasi semacam itu. Dalam rilis terbarunya, pemerintah juga menegaskan bahwa tren ini masih terus berlangsung hingga saat ini.
BACA JUGA:Bobotnya Tembus 800 Kg, Sapi Simental Kurban Bantuan Presiden Prabowo Bakal Dipotong di Sumber Jaya
Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang digital tidak hanya menjadi tempat bertukar informasi, tetapi juga dapat menjadi sumber tekanan mental jika tidak disikapi secara kritis. Dalam Kajian Sosiologi, Anthony Giddens menjelaskan bahwa perkembangan teknologi memang memudahkan kehidupan masyarakat, tetapi juga bisa membawa dampak baru dalam kehidupan sosial.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: