Harga Sawit PT SBS Naik Jadi Rp2.730 per Kilogram, Selisih Rp70 dengan PT BSL

Harga Sawit PT SBS Naik Jadi Rp2.730 per Kilogram, Selisih Rp70 dengan PT BSL

Harga Sawit PT SBS Naik Jadi Rp2.730 per Kilogram, Selisih Rp70 dengan PT BSL--(Foto: Ary/Tim/BETV)

BENGKULU, BETVNEWS - Kabar baik datang bagi petani kelapa sawit di Kabupaten Bengkulu Selatan. Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di PT Sinar Bengkulu Selatan (SBS) kembali mengalami kenaikan, sehingga selisih harga dengan PT Bengkulu sawit Lestari (BSL) kini semakin tipis.

Berdasarkan perkembangan terbaru, harga TBS di PT SBS naik Rp30 per kilogram, dari sebelumnya Rp2.700 menjadi Rp2.730 per kilogram. Sementara itu, harga pembelian di PT BSL masih bertahan di Rp2.800 per kilogram, sehingga selisih harga antara kedua pabrik kini hanya Rp70 per kilogram.

BACA JUGA:Perlu Tahu! Jurusan Kuliah yang Jarang Diminati, Punya Prospek Karier Menjanjikan

BACA JUGA:Penting! Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Membuat Ginjal Rusak, Hati-hati

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, Arif Budiman, mengatakan kenaikan harga di PT SBS menjadi angin segar bagi petani setelah sebelumnya harga sempat bergerak fluktuatif.

"Hari ini harga sawit di PT SBS mengalami kenaikan sebesar Rp30 per kilogram. Kenaikan ini membuat harga di PT SBS hampir menyusul harga di PT BSL yang telah mencapai Rp2.800 per kilogram," ujar Arif.

BACA JUGA:Pemkab Bengkulu Selatan Perjuangkan Hibah Lahan ke TNI AU, Status Aset Pemerintah Masuk Tahap Verifikasi

BACA JUGA:Lezat dan Bergizi, Rekomendasi Makanan yang Dapat Menambah Nafsu Makan

Menurut Arif, tren kenaikan harga ini diharapkan dapat terus berlanjut atau setidaknya tetap stabil. Kondisi tersebut dinilai penting karena harga TBS menjadi salah satu faktor utama yang menentukan tingkat pendapatan petani sawit.

Ia menjelaskan, ketika harga sawit meningkat, petani memiliki kesempatan memperoleh keuntungan yang lebih baik setelah menutupi biaya produksi yang terus mengalami kenaikan. Sebaliknya, jika harga turun tajam, beban petani akan semakin berat karena biaya operasional perkebunan tidak ikut menurun.

BACA JUGA:Cek di Sini! Bahaya Konsumsi Mi Instan Mentah yang Perlu Diketahui, Jangan Dijadikan Kebiasaan

BACA JUGA:PAD Retribusi Persampahan Kota Bengkulu Tembus Rp867,97 Juta, Hampir 50 Persen dari Target 2026

Biaya yang harus dikeluarkan petani meliputi pembelian pupuk, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama, hingga biaya panen dan transportasi. Seluruh kebutuhan itu harus tetap dipenuhi agar produktivitas kebun tetap terjaga.

"Alhamdulillah, kita harapkan harga ini mulai stabil dan tidak ada penurunan yang begitu signifikan," kata Arif.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait