Membangun Desa Bengkulu Melalui Pertanian Unggul

Membangun Desa Bengkulu Melalui Pertanian Unggul

Prof. Dr. Ir. H. Abdul Hamid, M.P., Peneliti Utama BRIDA Jawa Timur--(Sumber Foto: BETV)

Stevia, Kolaborasi Kemendes PDT–Kopassus, dan Penguatan Ekonomi Desa

Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Abdul Hamid, M.P., Peneliti Utama BRIN/BRIDA Jawa Timur, Kepakaran Kebijakan Publik Bidang Lingkungan, Pertanian dan Kehutanan

BETVNEWS - Putra Daerah Bengkulu

Pembangunan desa jangan berhenti pada pembangunan fisik. Infrastruktur harus menjadi jalan menuju peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, saya menyambut positif kolaborasi Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto bersama Panglima Kopassus Letjen TNI Djon Afriandi untuk pembangunan desa di Bengkulu. Program Karya Bakti yang direncanakan mulai Oktober 2026 diharapkan tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat.

Sebagai putra daerah Bengkulu, saya melihat momentum ini sangat strategis. Setelah jalan dan fasilitas dasar dibangun, desa harus memiliki komoditas unggulan, pasar yang pasti, dan industri pengolahan.

Stevia: Pertanian Bernilai Tambah

Salah satu komoditas yang layak dikaji adalah stevia (Stevia rebaudiana Bertoni). Daunnya mengandung steviol glycosides, terutama steviosida dan rebaudiosida, yang menghasilkan rasa manis jauh lebih kuat dibandingkan sukrosa.

Steviol glikosida dapat diekstraksi dan dimurnikan menjadi pemanis berintensitas tinggi dengan kalori sangat rendah. Karena itu, stevia berpotensi menjadi alternatif pemanis, terutama bagi masyarakat yang perlu membatasi konsumsi gula. Stevia bukan obat diabetes, tetapi dapat menjadi bagian dari pilihan pola konsumsi yang lebih sehat.

Jangan Menanam Sebelum Ada Pasar

Prinsipnya sederhana:

PASAR → OFFTAKER → KONTRAK → BIBIT → PETANI → PRODUKSI → INDUSTRI.

Petani jangan dibiarkan menanam lebih dahulu lalu kebingungan mencari pembeli.

Model yang saya tawarkan adalah kemitraan inti-plasma. Industri/pengusaha menjadi inti yang memberikan teknologi, bibit, pendampingan, standar kualitas dan jaminan pembelian. Petani menjadi plasma. Koperasi atau BUM Desa menjadi agregator hasil.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait