BENGKULU, BETVNEWS - Perang tidak lagi terbatas pada medan fisik dengan senjata dan pasukan militer. Konflik global kini telah bergeser ke ruang digital, di mana informasi berperan sebagai senjata utama.
Fenomena ini dikenal sebagai perang siber dan perang informasi, yang semakin nyata dalam berbagai dinamika konflik dunia saat ini.
BACA JUGA:Penataan Pantai Panjang Dikebut, Sehmi: Wujudkan Kawasan Wisata Tertib, Nyaman dan Berdaya Saing
BACA JUGA:PWI Siap Kawal Tuntas Kasus Intimidasi 7 Wartawan oleh Kadis PMD Kepahiang
Data menunjukkan bahwa serangan siber dan kampanye disinformasi mengalami peningkatan signifikan. Laporan dari Center for Strategic and International Studies mencatat bahwa aktivitas spionase siber meningkat hingga 150% pada tahun 2024, dengan serangan yang turut menyasar sektor media dan politik.
Hal ini menegaskan bahwa tujuan perang modern tidak lagi semata menghancurkan kekuatan fisik, tetapi juga mengendalikan narasi serta membentuk persepsi publik.
BACA JUGA:15 Tahun Mengabdi di Jalanan Bengkulu, Fatimah Titip Harapan Kesejahteraan di Momen Hari Buruh
BACA JUGA:Usai Gajah, Kini Harimau Sumatera Ditemukan Mati di Mukomuko
Salah satu contoh terlihat dalam konflik global kontemporer. Dalam ketegangan antara China dan Taiwan, strategi manipulasi informasi dilakukan dengan menyebarkan konten melalui figur lokal guna memecah opini masyarakat.
Bahkan, tercatat hampir 18.000 video propaganda disebarkan hanya dalam satu kuartal tahun 2025. Fakta ini menunjukkan bahwa perang modern tidak selalu datang dari luar, tetapi juga memanfaatkan dinamika internal suatu negara.
Selain itu, konflik di kawasan Timur Tengah memperlihatkan bagaimana media sosial telah menjadi “medan tempur kedua”.
Para aktor konflik memanfaatkan platform digital untuk memenangkan perhatian dan persepsi publik global. Dalam situasi ini, masyarakat tidak lagi sekadar menjadi penonton, melainkan turut terlibat melalui interaksi, komentar, dan penyebaran informasi.
Sementara itu, yang semakin mengkhawatirkan adalah peran teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan deepfake.