PETANI + KOPERASI/BUM DESA + PENGUSAHA + INDUSTRI + PEMERINTAH + BRIN/BRIDA + UNIVERSITAS BENGKULU.
BRIN/BRIDA dan Universitas Bengkulu
Pengembangan stevia harus berbasis riset. BRIN/BRIDA bersama Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu dapat melakukan kajian kesesuaian lahan, teknologi budidaya, produktivitas, pascapanen, kelayakan ekonomi, kualitas produk, hingga model bisnis dan kebijakan.
Dengan demikian, stevia bukan sekadar proyek menanam tanaman baru, tetapi menjadi model pertanian desa berbasis ilmu pengetahuan, teknologi dan pasar.
Gambaran Usahatani
Sebagai simulasi awal, produksi 7 ton daun kering/ha/tahun dengan harga Rp40.000/kg menghasilkan omzet sekitar:
7.000 kg × Rp40.000 = Rp280 juta/ha/tahun.
Dengan asumsi biaya sekitar Rp165 juta/ha/tahun, surplus indikatif mencapai sekitar:
Rp115 juta/ha/tahun.
Ini hanya simulasi. Angka sebenarnya harus diuji melalui demplot dan disesuaikan dengan biaya produksi serta harga kontrak offtaker.
Dari Bengkulu untuk Indonesia
Saya membayangkan kolaborasi Kemendes PDT–Kopassus menjadi momentum membangun desa secara terpadu:
Infrastruktur dibangun → riset dilakukan → komoditas dikembangkan → pasar dijamin → industri mengolah → nilai tambah kembali ke desa.
Sebagai putra daerah Bengkulu, saya berharap pembangunan ini tidak hanya menghasilkan jalan yang lebih baik, tetapi juga kehidupan ekonomi yang lebih baik.
Karena jalan yang baik harus membawa hasil pertanian ke pasar; pasar yang baik harus memberikan harga layak kepada petani; dan industri yang baik harus meninggalkan nilai tambah di desa.
Maka tujuan akhirnya bukan sekadar: