Harga TBS Jauh di Bawah Standar Provinsi, DPRD Bengkulu Selatan Desak Pemkab Panggil Seluruh PKS

Harga TBS Jauh di Bawah Standar Provinsi, DPRD Bengkulu Selatan Desak Pemkab Panggil Seluruh PKS

Harga TBS Jauh di Bawah Standar Provinsi, DPRD Bengkulu Selatan Desak Pemkab Panggil Seluruh PKS--(Sumber Foto: Ary/BETV)

BENGKULU SELATAN, BETVNEWS – Tren penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan terus bergulir hingga memicu keluhan hebat dari kalangan petani lokal. Grafik harga beli di tingkat pabrik saat ini dinilai telah merosot tajam dan berada jauh di bawah harga ketetapan standar yang dirilis oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu.

Merespons jeritan petani tersebut, Anggota DPRD Bengkulu Selatan, Yaumil Hajil Akbar, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui dinas teknis untuk segera memanggil manajemen seluruh perusahaan Pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di daerah tersebut.

Pemanggilan ini dinilai mendesak guna mengurai sengkarut anjloknya harga beli yang dinilai sepihak dan merugikan arus kas petani mandiri.

“Harga saat ini sangat jauh dari standar pemerintah provinsi,” ujar Yaumil saat memberikan keterangan tertulis pada Rabu, 27 Mei 2026.

Yaumil menilai, petani swadaya selalu diposisikan sebagai pihak yang paling rentan dan terdampak paling parah setiap kali ada fluktuasi penurunan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di pasar global.

Ironisnya, ketika kurva harga CPO dunia merangkak naik, dampak keuntungan tersebut justru tidak pernah dirasakan secara optimal oleh petani di tingkat tapak.

Di pihak eksekutif, Kepala Dinas Pertanian Bengkulu Selatan, Binagransya, mengonfirmasi bahwa pihaknya bergerak cepat dengan memanggil perwakilan manajemen PT Sinar Bengkulu Selatan (SBS) dan PT Bengkulu Selatan Lestari (BSL) untuk dimintai klarifikasi terkait polemik kejatuhan harga ini.

“Sudah kita panggil alasan harga dan sebagainya telah disampaikan,” kata Binagransya secara singkat.

Menanggapi pemanggilan tersebut, Manajer PT SBS, Ahmad H. Simaremare, membeberkan bahwa penurunan harga beli TBS di tingkat pabrik dipicu oleh melemahnya nilai tukar CPO global, yang berkelindan dengan dinamika regulasi kebijakan dari pemerintah pusat.

“Di SBS sendiri ada penurunan harga Rp270 per kilogram. Ini penurunan yang cukup besar,” ujarnya menerangkan kondisi riil di korporasi.

Kini, para petani sawit di Kabupaten Bengkulu Selatan menaruh harapan besar agar Pemkab setempat segera mengintervensi pasar dengan mengambil langkah konkret yang taktis, agar harga beli TBS kembali stabil dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap ekonomi masyarakat kecil.

“Kalau kondisi ini terus berlangsung, petani bisa semakin terpuruk karena sawit merupakan sumber penghidupan utama masyarakat,” tutup Yaumil.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait