Dilirik Pasar Internasional, Komoditas Niur Bengkulu Selatan Didorong untuk Ekspor

Dilirik Pasar Internasional, Komoditas Niur Bengkulu Selatan Didorong untuk Ekspor

Bupati Bengkulu Selatan, Rifai Tajudin--(Sumber Foto: Ary/BETV)

BENGKULU, BETVNEWS – Harapan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Selatan untuk menghidupkan kembali kejayaan komoditas kelapa atau yang akrab disebut niur kini mulai menemukan titik terang.

Program pengembangan niur yang sebelumnya sempat terkendala persoalan ketersediaan lahan, dipastikan mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI).

Kepastian tersebut muncul setelah adanya perubahan skema penyediaan lahan untuk program pengembangan niur dari pihak kementerian.

Jika sebelumnya lahan seluas 100 hektare diwajibkan berada dalam satu hamparan luas yang utuh, kini ketentuan itu dibuat lebih fleksibel dengan memperbolehkan lahan tersebar di beberapa titik berbeda.

Skema baru yang lebih longgar ini tentu disambut positif oleh Pemkab Bengkulu Selatan. Sebab, pola ini dinilai jauh lebih realistis dan memudahkan percepatan realisasi program di lapangan tanpa harus pusing membuka lahan baru dalam skala besar sekaligus.

BACA JUGA:BKD Seluma Verifikasi Ketat Berkas Administrasi, 30 Desa Antre Pencairan DD

BACA JUGA:Posko SPMB Dikbud Bengkulu Diserbu Wali Murid, Masalah KK Luar Daerah dan Kurasi Prestasi Mencuat

Bupati Bengkulu Selatan, H. Rifai Tajuddin, mengatakan bahwa dukungan pemerintah pusat terhadap program pengembangan niur ini semakin nyata.

Bahkan, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan RI sudah turun langsung ke lapangan untuk meninjau kesiapan daerah. Hal itu disampaikan Rifai saat memberikan keterangan terkait perkembangan program tersebut.

“Program ini diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat di tengah dominasi perkebunan kelapa sawit,” ujar Rifai, Senin, 1 Juni 2026.

Menurut Rifai, pengembangan niur nantinya akan memaksimalkan potensi lahan yang sudah dimiliki oleh masyarakat. Mulai dari pekarangan rumah, lahan tanaman pangan, sistem tumpang sari di sela-sela kebun kelapa sawit, hingga kawasan sempadan pantai.

Dengan konsep berbasis lahan masyarakat ini, program diyakini bakal lebih mudah diterapkan dan disambut hangat oleh warga luas. Pemerintah daerah pun sangat optimistis niur bisa kembali menjadi salah satu komoditas perkebunan unggulan di Bengkulu Selatan.

BACA JUGA:Terima LHP dari BPK, Pemkab Bengkulu Utara Sukses Pertahankan Predikat Opini WTP

BACA JUGA:KPKNL Bengkulu Kenalkan Aplikasi Lelang Versi 2 dan Skema Unik 'Hak Menikmati' Aset Daerah

Tak hanya soal kemudahan lahan, dukungan dari pemerintah pusat juga diperkuat dengan adanya apresiasi terhadap kualitas kelapa asli Bengkulu Selatan.

Dalam pertemuan sebelumnya dengan Menteri Pertanian RI, komoditas niur dari daerah ini dinilai punya kualitas jempolan dan berpeluang besar untuk menembus pasar ekspor sebagai produk kelapa kupas.

Lewat program ini, Pemkab Bengkulu Selatan menargetkan niur bisa menjadi sumber ekonomi alternatif bagi para petani, sekaligus menciptakan diversifikasi atau variasi hasil perkebunan di tengah kuatnya dominasi kelapa sawit saat ini.

Untuk mendukung keberhasilan program tersebut, pemerintah daerah kini mulai menyiapkan berbagai langkah pendampingan bagi kelompok tani. Mulai dari penyediaan bibit unggul, pelatihan budidaya yang benar, hingga fasilitasi akses pasar pascaproduksi.

Jika berjalan sesuai rencana, program pengembangan niur ini diproyeksikan mampu membuka banyak lapangan pekerjaan baru di Bengkulu Selatan, mulai dari sektor hulu (budidaya) hingga sektor hilir (pengolahan pascapanen) untuk kebutuhan ekspor.

BACA JUGA:Guna Atasi Masalah Sampah Kobema, Pemprov Bengkulu Mulai Susun Studi Kelayakan TPST Regional

BACA JUGA:Hasil Curian untuk Sabu dan Judol, Pelaku Curanmor di Dusun Curup Ditangkap Polres Rejang Lebong

“Dengan dukungan dari pemerintah pusat dan keterlibatan masyarakat, kami optimistis komoditas niur Bengkulu Selatan bisa kembali berjaya. Ini bukan hanya soal menghidupkan kembali tanaman kelapa, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan petani,” tutup Rifai.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait