Kritik Sosiologi Teknologi Terhadap Tren Self-Diagnosis Kesehatan Mental Remaja di TikTok

Kritik Sosiologi Teknologi Terhadap Tren Self-Diagnosis Kesehatan Mental Remaja di TikTok

Ilustrasi. Kritik Sosiologi Teknologi Terhadap Tren Self-Diagnosis Kesehatan Mental Remaja di Tiktok--(Sumber Foto: Doc/BETV)

BENGKULU, BETVNEWS - Ditengah derasnya arus informasi digital, media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang hiburan. Ia telah menjelma menjadi ruang belajar yang diam-diam membentuk cara generasi muda memahami dirinya sendiri, termasuk dalam hal kesehatan mental.

Di Indonesia, jumlah pengguna internet telah menembus lebih dari 215 juta orang, dengan dominasi anak muda yang hidup berdampingan dengan layar hampir sepanjang hari. Apa yang mereka lihat, dengar, dan konsumsi di media sosial tidak lagi berhenti sebagai hiburan, melainkan turut membentuk cara berpikir, merasa, hingga menilai diri.

BACA JUGA:Nasib SF Alias Aan: Terjerat Kasus Penggelapan Miliaran, Kini Dilaporkan Perzinahan oleh Istri Sah

BACA JUGA:Sengketa Lahan dengan Pelindo Memanas, Warga Sumber Jaya Resmi Ajukan Banding

Fenomena meningkatnya konten kesehatan mental di platform seperti TikTok patut diapresiasi. Topik yang dulunya dianggap tabu kini menjadi lebih terbuka. Anak muda mulai berani membicarakan kecemasan, kelelahan emosional, hingga tekanan sosial yang mereka alami.

Namun, di balik keterbukaan tersebut, muncul kecenderungan yang problematis, yakni praktik self-diagnosis yang dilakukan secara instan tanpa dasar yang memadai.

Banyak remaja merasa “terwakili” oleh konten yang mereka tonton, lalu menyimpulkan bahwa dirinya mengalami gangguan tertentu hanya karena memiliki beberapa gejala yang serupa. Padahal, kesehatan mental bukanlah sesuatu yang bisa dipahami secara sederhana melalui potongan video singkat. Informasi yang kompleks sering kali disederhanakan demi menarik perhatian, sehingga berisiko menimbulkan kesalahpahaman.

BACA JUGA:Ratusan Calon Manajer KopDes Merah Putih Antre Uji Kesehatan Jiwa di RSKJ Bengkulu

BACA JUGA:Dugaan Pelecehan Seksual di Bus Bengkulu, Korban Asal Lampung Laporkan Kernet ke Polisi

Persoalan ini semakin diperkuat oleh cara kerja algoritma. Sistem media sosial dirancang untuk membuat pengguna bertahan lebih lama, bukan untuk memastikan akurasi informasi. Ketika seseorang mulai tertarik pada konten kesehatan mental, algoritma akan terus menyajikan konten serupa. Tanpa disadari, pengguna masuk ke dalam “ruang gema” yang memperkuat keyakinannya sendiri. Apa yang berulang kali muncul terasa semakin benar, meskipun belum tentu akurat.

Interaksi di media sosial seperti komentar, likes, dan dukungan dari pengguna lain juga turut memperkuat keyakinan tersebut. Banyak remaja merasa tervalidasi oleh pengalaman orang lain, lalu menjadikannya sebagai dasar untuk menilai kondisi dirinya sendiri.

BACA JUGA:Dedy Wahyudi Lepas 1.231 Calon Jemaah Haji Kota Bengkulu, Bekali Seragam Batik Besurek Gratis

BACA JUGA:Saringan Ketat Paskibraka Bengkulu Selatan, 10 Peserta Langsung Tereliminasi di Hari Pertama

Di titik ini, yang terjadi bukan lagi sekadar konsumsi informasi, melainkan pembentukan realitas yang terasa benar karena didukung oleh banyak orang. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, otoritas tentang kesehatan mental perlahan bergeser dari tenaga profesional ke ruang digital yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait