Resign Paksa dan Hidup sebagai Anak Gig: Kisah Gen Z Bertahan di Tengah Ombak PHK

Resign Paksa dan Hidup sebagai Anak Gig: Kisah Gen Z Bertahan di Tengah Ombak PHK

Ilustrasi. Resign Paksa dan Hidup sebagai Anak Gig: Kisah Gen Z Bertahan di Tengah Ombak PHK--(Sumber Foto: Angeil Bima Saputra)

BETVNEWS - Kehadiran internet telah merasuk begitu dalam ke sendi-sendi kehidupan manusia modern. Jaringan digital ini tidak hanya menghubungkan satu individu dengan individu lainnya, tetapi juga telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, mulai dari interaksi sosial, pelestarian budaya, hingga transaksi ekonomi.

Kemampuan teknologi untuk mengendalikan dan mengubah lingkungan hidup manusia semakin terasa sejak dimulainya era revolusi industri, yang kemudian berkembang pesat menjadi revolusi digital. Sayangnya, di tengah gemerlapnya kemajuan teknologi ini, angin kencang justru berhembus di sektor ketenagakerjaan Indonesia.

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal terjadi di mana-mana sejak akhir tahun 2024 hingga memasuki 2025, bak sebuah "resign paksa" yang tidak diinginkan oleh siapa pun. Sektor-sektor yang sebelumnya dianggap kokoh seperti teknologi informasi, perusahaan rintisan (startup), manufaktur, hingga perbankan ikut ambruk terkena imbasnya.

BACA JUGA:Transformasi Digital Tanpa Pemerataan, Solusi atau Ilusi?

Data dari Kementerian Ketenagakerjaan mencatat bahwa lebih dari 65.000 pekerja kehilangan mata pencaharian mereka hanya dalam kurun waktu satu tahun. Fenomena ini secara langsung mendorong generasi muda, khususnya mereka yang masuk dalam kategori Generasi Zilenial, untuk memutar otak mencari jalan keluar dari kebuntuan.

Mereka adalah generasi yang lahir dan tumbuh di tengah hiruk-pikuk perkembangan teknologi paling masif. Dikenal sebagai digital native, mereka fasih berselancar di berbagai platform digital. Namun, kefasihan teknis ini seakan diuji ketika sektor kerja formal yang selama ini menjadi tumpuan mulai ambruk. Mereka yang sebelumnya duduk nyaman sebagai karyawan tetap di perusahaan bonafide, kini harus memutar haluan menuju sektor informal yang terdigitalisasi, yang lebih populer dengan sebutan ekonomi gig (gig economy).

BACA JUGA:Harmonisasi Program Kemanusiaan, KemenHAM dan Kemensos di Bengkulu Perkuat Koordinasi Kelembagaan

Ekonomi gig adalah sebuah sistem pasar kerja yang didominasi oleh pekerjaan jangka pendek, berbasis proyek, dan sepenuhnya dimediasi oleh aplikasi atau platform digital seperti Gojek, Grab, Shopee, hingga TikTok. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2025 menunjukkan bahwa penetrasi internet di kalangan usia 18–35 tahun telah mencapai angka 89 persen.

Dari jumlah tersebut, sekitar 76 persen mengaku menghabiskan waktu lebih dari 5 jam per hari di media sosial. Tingginya tingkat akses ini secara tidak langsung telah menyulap layar ponsel menjadi sebuah pasar raya raksasa. Namun, kepindahan massal dari kantor ber-AC ke jalanan yang panas atau kamar kos yang sempit tidaklah semanis yang dibayangkan. Ada harga mahal yang harus dibayar: hilangnya jaminan sosial, pendapatan yang tidak menentu, serta tekanan batin yang terus-menerus mengintai.

BACA JUGA:Melihat Bukan Lagi Bukti: Deepfake dan Krisis Kepercayaan di Era Digital

Fenomena ini semakin nyata dengan adanya kasus-kasus yang bisa kita lihat sehari-hari. Ambil contoh kisah Hariyadi (25 tahun), seorang pemuda asal Depok yang harus rela kehilangan pekerjaannya sebagai sales di sebuah perusahaan spare part pada Mei 2025 lalu.

Perusahaannya mengalami masalah dan terpaksa melakukan pengurangan karyawan. Tidak ingin lama-lama menganggur, ia pun berbondong-bondong mengikuti rekrutmen massal untuk menjadi pengemudi ojek online (ojol) di Gedung Smesco, Jakarta Selatan.

"Kena lay off bulan kemarin, gara-gara di perusahaan ada masalah, jadi penghasilan berkurang, dan akhirnya ada pengurangan karyawan," ujarnya polos.

Ia sadar betul bahwa menjadi ojol bukanlah solusi jangka panjang, tetapi setidaknya ada uang yang masuk setiap hari, berbeda dengan menunggu panggilan kerja yang tak kunjung datang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: