Dulu Menyapu Lantai Sebagai PRT, Anak Tukang Bubur di Blora Ini Kini Jadi Jenderal Kakorbinmas Polri

Dulu Menyapu Lantai Sebagai PRT, Anak Tukang Bubur di Blora Ini Kini Jadi Jenderal Kakorbinmas Polri

Dulu Menyapu Lantai Sebagai PRT, Anak Tukang Bubur di Blora Ini Kini Jadi Jenderal Kakorbinmas Polri--(Sumber Foto: Imron/BETV)

BENGKULU, BETVNEWS – Nama Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) Mardiyono, S.I.K., M.Si. saat ini mentereng di jajaran elite Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri) sebagai Kepala Korps Pembinaan Masyarakat Badan Pemelihara Keamanan (Kakorbinmas Baharkam) Polri.

Namun, tidak banyak publik yang mengetahui bahwa rute panjang menuju pangkat jenderal bintang dua tersebut bermula dari lantai dapur rumah orang lain di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada medio 1988 silam.

Dilahirkan dari rahim keluarga yang serbaketerbatasan, Mardiyono kecil tumbuh dengan menyaksikan peluh sang ayah yang menyambung hidup sebagai tukang bubur keliling.

Guna meringankan beban finansial orang tua sekaligus mempertahankan asa untuk bisa terus mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Mardiyono remaja membuang jauh-jauh rasa gengsi.

Ia memilih melakoni pekerjaan sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di kediaman seorang Kepala Bank BRI Cabang Blora. Rutinitas menyapu, mengepel, hingga membersihkan dapur itu dilahapnya saban hari sepulang sekolah.

BACA JUGA:Akses Jalan Desa Maras Putus Total, Pemkab Bengkulu Selatan Desak BWS Segera Lakukan Perbaikan

BACA JUGA:Sasar 5 Ribu Hektare Sawah, Dinas Pertanian Bengkulu Selatan Rampungkan Penyaluran Benih Padi Ciherang

Kendati waktu dan raganya terkuras untuk bekerja paruh waktu, jeruji keterbatasan ekonomi tidak pernah sanggup memenjarakan otaknya untuk berhenti meneguk ilmu.

Di sela-sela rehat menyikat lantai atau membersihkan halaman rumah majikan, Mardiyono selalu menyelinap untuk membuka lembaran kitab teks pelajaran.

Kegilaannya pada ilmu pengetahuan membuat dirinya sempat dilekati julukan "kutu buku" oleh rekan-rekan sejawatnya di sekolah, lantaran nyaris tidak ada waktu luang yang terbuang tanpa membaca.

“Buku dan kerja keras mengubah jalan hidup saya. Dari membaca saya belajar bahwa mimpi anak orang kecil tetap bisa dikejar,” kenang Irjen Pol Mardiyono dalam beberapa kesempatan saat merefleksikan lembar masa lalunya.

BACA JUGA:Hutama Karya Catat 1.401 Kendaraan Lintasi Tol Bengtaba Jelang Akhir Liburan

BACA JUGA:Lebih Murah dari Harga Pasar, Dinas Perikanan Bengkulu Selatan Buka Pusat Jajanan Serba Ikan Sebulan Sekali

Diktum bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil akhirnya terbukti nyata. Ketekunan dan kecerdasan akademis di atas rata-rata mengantarkan anak tukang bubur keliling ini lolos dalam seleksi super ketat Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI).

Memungkasi masa pendidikan pada tahun 1991, ia resmi dilantik sebagai perwira muda Polri. Sejak momen sakral itulah, kurva kariernya merangkak naik secara presisi, mulai dari penugasan taktis di lapangan hingga dipercaya menduduki berbagai posisi strategis. Integrasi kerja keras dan rekam jejak yang bersih tanpa cacat akhirnya menuntun Mardiyono meraih pangkat Inspektur Jenderal.

Sebelum didapuk menakhodai Korps Binmas Baharkam Polri terhitung sejak Mei 2026, jejak pengabdian Irjen Pol Mardiyono sempat menancap kuat di Provinsi Bengkulu saat dirinya dipercaya memegang tongkat komando tertinggi sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Bengkulu.

Masa kepemimpinannya di Provinsi Bengkulu membekas dalam di sanubari kolektif masyarakat berkat gaya kepemimpinannya yang sangat egaliter dan membumi.

Salah satu warisan emas programnya yang paling dinilai monumental di Bengkulu adalah akselerasi bedah rumah melalui pembangunan puluhan unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi keluarga prasejahtera.

Program kemanusiaan tersebut diintervensi langsung oleh sang jenderal, demi memastikan bahwa kehadiran dan bantuan logistik negara benar-benar mendarat di tangan wong cilik.

Meskipun saat ini posisinya sudah bertengger di jajaran perwira tinggi Mabes Polri, DNA kesederhanaan Mardiyono tidak pernah luntur oleh gemerlap jabatan.

Ia tetap menjadi sosok jenderal yang inklusif, mudah ditemui tanpa sekat birokrasi yang kaku, dan peka terhadap dinamika sosial di masyarakat. Pendekatan berbasis pemolisian humanis (humanist policing) kini menjadi distingsi sekaligus ciri khas utamanya dalam memimpin urusan pembinaan masyarakat di skala nasional.

Saga perjalanan hidup Irjen Pol Mardiyono seolah mengafirmasi satu kebenaran mutlak bahwa kemiskinan dan latar belakang ekonomi hulu sama sekali tidak berhak mendikte garis akhir nasib seseorang. Dari seorang anak tukang bubur keliling yang pernah memeras keringat sebagai pembantu rumah tangga, takdir kehidupan membawanya bertransformasi menjadi perisai pelindung, pengayom, sekaligus pembina peradaban masyarakat di tingkat nasional.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait