Nakhoda Baru JMSI Bengkulu, Perangi Hoaks AI dengan Jurnalisme Berbasis HAM dan Kemandirian Ekonomi
Nakhoda Baru JMSI Bengkulu, Perangi Hoaks AI dengan Jurnalisme Berbasis HAM dan Kemandirian Ekonomi--(Sumber Foto: Imron/BETV)
BENGKULU, BETVNEWS – Era baru industri media siber di Bumi Merah Putih resmi dimulai. Kepengurusan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Bengkulu masa bakti 2025-2030 resmi dikukuhkan dalam prosesi khidmat di Ballroom Hotel Mercure, Senin 27 April 2026.
Momentum ini bukan sekadar pergantian wajah, melainkan deklarasi melawan disrupsi teknologi dan penguatan nilai kemanusiaan.
Berbeda dengan pelantikan organisasi pers pada umumnya, JMSI Bengkulu di bawah kepemimpinan Dedi Hardiansyah Putra memilih menyandingkan pelantikan dengan Seminar Hak Asasi Manusia (HAM). Dedi menegaskan bahwa HAM bukan sekadar suplemen, melainkan fondasi utama pergerakan organisasi selama lima tahun ke depan.
“Kami ingin setiap derap langkah dan program kerja JMSI Bengkulu bernapaskan perlindungan HAM. Ini adalah komitmen kami untuk memastikan pers hadir sebagai pembela hak-hak publik,” tegas Dedi usai pelantikan.
BACA JUGA:Dugaan Mafia Tanah HPT Bukit Rabang: Eks Kepala BPN Bengkulu Selatan Resmi Tersangka
Menyadari tantangan ekonomi yang kian pelik, JMSI Bengkulu enggan hanya berpangku tangan pada kerja sama konvensional. Dalam rencana strategis satu tahun pertama, mereka membidik kolaborasi dengan otoritas dan lembaga keuangan raksasa guna menciptakan kemandirian ekosistem media lokal.
Target kolaborasi tersebut meliputi:
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) & Bursa Efek Indonesia (BEI): Untuk literasi bisnis media.
Himpunan Bank Milik Negara (Himbara): Untuk penguatan permodalan dan kemandirian industri pers lokal.
“Kolaborasi adalah harga mati. Media lokal tidak boleh hanya 'sekadar ada', mereka harus tumbuh menjadi perusahaan pers yang sehat secara bisnis dan berwibawa secara konten di tengah guncangan ekonomi global,” tambahnya.
Isu kecerdasan buatan (AI) yang kian masif menjadi perhatian serius. JMSI Bengkulu memposisikan diri sebagai filter di tengah banjir informasi yang dihasilkan mesin. Dedi menekankan bahwa "sentuhan manusia" lewat verifikasi berlapis adalah pembeda antara produk jurnalistik bermutu dengan konten instan buatan AI.
BACA JUGA:Pariwisata Bengkulu Menuju Level Baru: Utusan Khusus Presiden Turun Lapangan Cek Destinasi Unggulan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: