Satwa Mati Beruntun di Mukomuko, Koalisi Seblat Tuding Gakkum Kemenhut Mandul

Satwa Mati Beruntun di Mukomuko, Koalisi Seblat Tuding Gakkum Kemenhut Mandul

Satwa Mati Beruntun di Mukomuoo, Koalisi Seblat Tuding Gakkum Kemenhut Mandul"--(Sumber Foto: Ilham/BETV)

BENGKULU, BETVNEWS – Kematian beruntun dua ekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) serta seekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di pengujung April 2026 menjadi tamparan keras bagi otoritas kehutanan.

Koalisi Selamatkan Bentang Seblat melontarkan mosi tidak percaya kepada Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) dan Ditjen Gakkum Kementerian Kehutanan yang dinilai gagal total dalam memitigasi kepunahan satwa di perbatasan Bengkulu Utara–Mukomuko.

Berdasarkan catatan kelam Koalisi, sejak tahun 2018 telah terjadi tujuh kasus kematian gajah di area konsesi PT Bentara Arga Timber (BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (API) tanpa ada satupun dalang yang berhasil diseret ke meja hijau.

Direktur Hutan Auriga Nusantara, Supintri Yohar, menegaskan bahwa degradasi habitat akibat ekspansi perkebunan ilegal adalah pemicu utama konflik berdarah ini.

BACA JUGA:Pencurian HP Pelajar di Lingkar Barat Bengkulu, Pelaku Masuk Lewat Ventilasi Kamar Kos

BACA JUGA:Minta Hakim Bebaskan Bebby Hussy, Kuasa Hukum: Ini Masalah Bisnis, Bukan Korupsi

“Pembukaan hutan secara masif di habitat gajah pasti mengancam kelestarian, karena satwa ini membutuhkan ruang hidup yang luas dan aman,” tegasnya.

Meski Satgas PKH mengeklaim telah memusnahkan 240 hektare sawit ilegal dan memproses hukum lima tersangka, Koalisi menilai tindakan tersebut hanyalah "kosmetik" hukum. Faktanya, ribuan hektare kebun sawit di jantung habitat gajah tetap dibiarkan tegak berdiri.

Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, menyayangkan lemahnya nyali pemerintah dalam mencabut izin korporasi serta ketidakmampuan membidik para "cukong" atau pemodal besar di balik perambahan HPT Air Ipuh dan HP Air Teramang.

“Operasi penegakan hukum berjalan, tapi di saat yang sama satwa justru mati. Ini menunjukkan penanganan belum menyentuh akar masalah,” sindir Ali.

Senada dengan itu, Direktur Genesis Bengkulu, Egi Saputra, menyebut langkah pemerintah selama ini cenderung seremonial dan hanya menyasar masyarakat lapisan bawah sebagai kambing hitam.

BACA JUGA:Identifikasi Kematian Gajah Mukomuko: Polisi Kirim Sampel Organ Vital ke Laboratorium Forensik

BACA JUGA:Tingkatkan Wawasan Kebangsaan, Pelajar Terbaik se-Bengkulu Beradu di LCC Empat Pilar MPR RI

“Kematian gajah dan harimau ini menjadi bukti nyata bahwa upaya yang dilakukan belum efektif melindungi habitat,” cetusnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait