Penyebab Kematian 3 Satwa Dilindungi di Mukomuko Masih Diselidiki, BKSDA Tunggu Hasil Laboratorium

Penyebab Kematian 3 Satwa Dilindungi di Mukomuko Masih Diselidiki, BKSDA Tunggu Hasil Laboratorium

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Agung Nugroho, S.Si.M.A--(Sumber Foto: Putri/BETV)

BENGKULU, BETVNEWS - Kematian satwa liar dilindungi kembali terjadi di Provinsi Bengkulu. Dua ekor gajah sumatera dan satu ekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) ditemukan mati di wilayah Kabupaten Mukomuko. Hingga saat ini, penyebab kematian ketiga satwa langka tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Agung Nugroho, S.Si.M.A mengungkapkan, pihaknya telah melakukan proses nekropsi terhadap bangkai satwa yang ditemukan. Sejumlah sampel organ dalam, seperti hati dan isi perut, telah diambil untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Balai Veteriner Lampung.

"Proses nekropsi sudah kami lakukan, sampel organ dalam sudah kami kirim ke laboratorium untuk memastikan penyebab kematian. Saat ini kami masih menunggu hasilnya, kemungkinan sekitar satu hingga dua minggu ke depan baru keluar," ujar Agung, Kamis (7/5).

BACA JUGA:Wabup Lebong Tinjau Lokasi Banjir, OPD Diminta Siapkan Logistik dan Dapur Umum

BACA JUGA:Rehab Masjid Agung Baitul Huda Segera Dimulai, Pemkab Mukomuko Siapkan Rp935 Juta

Berdasarkan hasil pemeriksaan visual sementara di lapangan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh satwa. Seluruh organ terlihat dalam kondisi utuh tanpa bekas luka, baik akibat benda tajam maupun benda tumpul. Hal ini membuat penyebab kematian belum dapat disimpulkan dan masih menunggu hasil uji laboratorium.

"Secara kasat mata tidak ada tanda kekerasan, organ tubuh juga masih utuh. Karena itu, kami belum bisa memastikan penyebab kematiannya tanpa hasil laboratorium," tambahnya.

Dalam upaya mengungkap kasus ini, BKSDA Bengkulu telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian serta tim penegakan hukum (Gakkum) kehutanan wilayah Sumatera. Penyelidikan terus dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya unsur kesengajaan atau faktor lain yang menyebabkan kematian satwa dilindungi tersebut.

Selain itu, petugas juga telah meningkatkan patroli gabungan di sejumlah titik habitat gajah. Langkah ini dilakukan menyusul masih ditemukannya jejak baru gajah di kawasan tersebut, sehingga diperlukan pengawasan lebih intensif untuk mencegah kejadian serupa terulang.

BACA JUGA:Kesbangpol Kota Bengkulu Kirim 6 Pelajar ke Seleksi Paskibra Provinsi

BACA JUGA:Dishub Kota Bengkulu Tambah Penerangan Jalan di Titik Rawan Gangster

Agung menyebut, lokasi ditemukannya satwa mati merupakan kawasan hutan yang telah mengalami aktivitas perambahan. Padahal, kawasan tersebut merupakan habitat alami satwa liar yang seharusnya dijaga kelestariannya.

"Kami melihat kawasan ini sudah cukup banyak mengalami perambahan. Ini tentu menjadi ancaman bagi habitat satwa liar, termasuk gajah dan harimau sumatera," jelasnya.

Dengan adanya kejadian ini, BKSDA mengimbau masyarakat untuk turut berperan aktif dalam perlindungan satwa liar. Imbauan ini sejalan dengan surat edaran Gubernur Bengkulu Helmi Hasan terkait perlindungan satwa liar dan pencegahan interaksi negatif antara manusia dan satwa.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait