Harga TBS Merangkak Naik, Petani Sawit Seluma Kembali Aktif Panen

Harga TBS Merangkak Naik, Petani Sawit Seluma Kembali Aktif Panen

Harga TBS Merangkak Naik, Petani Sawit Seluma Kembali Aktif Panen--(Sumber Foto: Julyan/BETV)

BENGKULU, BETVNEWS - Kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit membawa angin segar bagi petani di Kabupaten Seluma. Setelah sempat terpuruk akibat harga jual yang rendah, kini para petani kembali bersemangat menggarap kebun dan meningkatkan aktivitas panen.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga TBS sawit di tingkat petani sempat berada di kisaran Rp1.500 per kilogram. Namun saat ini harga berangsur membaik dan mencapai Rp2.000 hingga Rp2.400 per kilogram, tergantung kualitas buah dan lokasi penjualan.

BACA JUGA:Patroli Tengah Malam, Satlantas Polresta Bengkulu Sasar Titik Rawan Balap Liar dan Kejahatan Jalanan

BACA JUGA:23 Koperasi Merah Putih di Kota Bengkulu Siap Terima Bantuan Budidaya Ikan

Perbaikan harga tersebut langsung dirasakan oleh para petani. Sejumlah kebun sawit yang sebelumnya minim aktivitas kini kembali ramai dengan kegiatan panen karena hasil yang diperoleh dinilai lebih menguntungkan dibandingkan sebelumnya.

Salah seorang petani sawit di Kabupaten Seluma, Alian, mengatakan kenaikan harga menjadi kabar yang telah lama ditunggu para petani. Menurutnya, kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa waktu lalu ketika harga sawit berada pada level yang sangat rendah.

“Alhamdulillah sekarang harga sawit sudah mulai naik. Kami jadi lebih semangat untuk memanen karena hasil yang diterima sudah lebih layak,” ujarnya.

BACA JUGA:Long Weekend Idul Adha, DLHK Siagakan 210 Petugas dan Armada Sampah Jaga Kebersihan Kota Bengkulu

BACA JUGA:Curi Ponsel dan Uang Jutaan Rupiah Saat Korban Salat, Pria Asal Bengkulu Utara Ditangkap Polisi

Ia menjelaskan, saat harga berada di angka Rp1.500 per kilogram, banyak petani memilih menunda panen karena biaya operasional yang harus dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.

Biaya untuk memanen, membayar tenaga kerja, hingga mengangkut hasil kebun ke tempat penjualan membuat sebagian petani memilih membiarkan buah sawit tetap berada di pohon atau bahkan tidak dipanen sama sekali.

“Waktu harga rendah, hasil penjualan sering tidak cukup menutupi biaya panen dan transportasi. Karena itu banyak petani yang memilih menunggu harga membaik,” katanya.

BACA JUGA:Trafik Tol Bengtaba: Libur Idul Adha Dongkrak Volume Kendaraan 64 Persen

BACA JUGA:5 Kabupaten di Bengkulu Dapat Program Pengembangan Kawasan Kopi, Luasnya Capai 1.350 Ha

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait