BACA JUGA:Gubernur Helmi Hasan: Galian C Ilegal di Seluma Harus Segera Ditutup!
Ia pernah menangani pasien dengan bekas luka menyerupai bentuk sabit Bulan di bagian belakang mata, yang terjadi akibat menatap Matahari saat gerhana. Kerusakan tersebut muncul karena reaksi kimia pada retina, bagian mata yang memiliki sel batang untuk penglihatan gelap dan sel kerucut untuk mengenali warna.
Radiasi Matahari yang mengenai retina bisa merusak kedua jenis sel tersebut, kondisi yang dikenal sebagai retinopati surya atau cedera fotokimia retina. Tingkat kerusakan bergantung pada durasi seseorang menatap Matahari tanpa perlindungan.
BACA JUGA:Tunggu Lampu Hijau BWSS VII, Pemkot Bengkulu Siap Eksekusi Perbaikan Jogging Track Pantai Panjang
BACA JUGA:Modernisasi Pendidikan Madrasah, Wali Kota Bengkulu Dukung Penuh Metode Montessori Humaira’
Dalam kasus yang lebih berat, kerusakan bisa disertai luka bakar akibat panas, menghancurkan jaringan retina secara permanen. Risiko ini meningkat bila seseorang berkali-kali menatap Matahari tanpa filter, termasuk menggunakan teleskop atau alat optik tanpa penyaring khusus Matahari.
Karena itu, jika ingin mengamati gerhana matahari, penggunaan kacamata khusus atau filter Matahari adalah keharusan.
BACA JUGA:Penantian Bertahun-tahun Usai, Gubernur Helmi Hasan Resmikan Jembatan Matan Senilai Rp16 Miliar
Satu-satunya waktu aman untuk melihat Matahari tanpa alat bantu hanyalah saat fase gerhana total, ketika Bulan sepenuhnya menutupi Matahari dan hanya korona yang tampak. Di luar fase tersebut, menatap Matahari langsung sangat tidak disarankan.