KEPAHIANG, BETVNEWS – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kepahiang menyatakan sikap tegas untuk mengawal kasus intimidasi yang menimpa tujuh orang jurnalis hingga tuntas.
Langkah ini diambil setelah para korban resmi melayangkan laporan ke Satreskrim Polres Kepahiang pada Kamis (30/4) malam.
Intimidasi tersebut diduga dilakukan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Kepahiang, Zaili Husin, saat para jurnalis hendak melakukan konfirmasi berita dan menjalankan tugas peliputan.
Ketua PWI Kabupaten Kepahiang, Doni Parianata, sangat menyayangkan sikap arogansi yang ditunjukkan oleh oknum pejabat eselon II di lingkungan Pemkab Kepahiang tersebut.
BACA JUGA:Usai Gajah, Kini Harimau Sumatera Ditemukan Mati di Mukomuko
BACA JUGA:15 Tahun Mengabdi di Jalanan Bengkulu, Fatimah Titip Harapan Kesejahteraan di Momen Hari Buruh
"Kita secara organisasi sangat menyayangkan insiden ini terjadi. Di sini kawan-kawan melakukan pekerjaan ini dilindungi UU dan menjalankan tugas sesuai dengan kode etik jurnalis," ujar Doni Parianata, Jumat (1/5).
Doni menegaskan bahwa PWI Kabupaten Kepahiang telah berkoordinasi dengan PWI Provinsi Bengkulu. Pihaknya memastikan akan memberikan pendampingan penuh kepada ketujuh wartawan yang mencari keadilan melalui jalur hukum.
"Kami melakukan pendampingan terhadap rekan-rekan kita yang mendapat tindakan intimidasi tersebut. Kami juga telah berkoordinasi dengan PWI Provinsi Bengkulu dan siap untuk dikawal sampai selesai," tegasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ketujuh wartawan yang menjadi korban adalah Hendri Irawan (BETV), M. Bima (Tribun Bengkulu), Alex Chandra (TVRI), Jimmy Mahendra (Radar Kepahiang), Ferik Leorisando (Liputan Satu), Rahmat (Semarakpost), dan Angga (JepretNews).
Peristiwa bermula sekitar pukul 16.00 WIB saat para awak media mendatangi kantor Dinas PMD untuk mewawancarai Kepala Dinas terkait isu terkini.
Meski telah memperkenalkan diri secara resmi, respons yang diterima justru sangat anarkis. Sang Kadis dilaporkan naik pitam, mengunci pintu ruangan dari dalam, lalu melemparkan kuncinya keluar jendela agar para wartawan tidak bisa keluar.
"Kejadiannya sekitar pukul 16.00 WIB. Saat kami ingin konfirmasi, kami justru dikurung di dalam ruangannya. Beliau memukul meja dan melontarkan kata-kata yang membuat kami merasa terancam," ungkap Hendri Irawan, salah satu jurnalis yang berada di lokasi.