BENGKULU, BETVNEWS - ChatGPT kian akrab digunakan mahasiswa sebagai alat bantu dalam kegiatan akademik. Teknologi kecerdasan buatan tersebut dimanfaatkan untuk memahami materi perkuliahan, mencari referensi, mengembangkan gagasan, hingga membantu menyelesaikan tugas. Jawaban yang dapat diperoleh dalam hitungan detik membuat proses pencarian informasi menjadi lebih cepat, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan baru dalam memastikan ketepatan dan keandalan informasi.
Fenomena tergambar dalam penelitian mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mencari informasi pembelajaran oleh mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Dehasen Bengkulu. Penelitian melibatkan enam mahasiswa angkatan 2021, yang terdiri atas tiga mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi dan tiga mahasiswa Program Studi Administrasi Publik. Data dihimpun melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, serta dokumentasi penggunaan ChatGPT dalam kegiatan akademik.
BACA JUGA:Nobar Semifinal Piala Dunia 2026, Wali Kota Bengkulu Dukung Argentina Melaju ke FinalTemuan penelitian memperlihatkan bahwa ChatGPT telah banyak digunakan untuk memahami materi perkuliahan, memperoleh penjelasan yang lebih sederhana, mencari teori, mengembangkan ide, menyusun tugas, membuat laporan praktik kerja lapangan, hingga membantu proses awal penyusunan skripsi. Namun, penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa kemudahan teknologi belum selalu diikuti oleh kemampuan memeriksa akurasi informasi secara mendalam.
Dalam kerangka perilaku pencarian informasi David Ellis, proses pencarian dimulai dari tahap starting, yaitu saat seseorang menyadari bahwa dirinya membutuhkan informasi dan menentukan langkah awal untuk memperolehnya. Pada tahap ini, mahasiswa cenderung memilih ChatGPT karena dinilai lebih cepat dibandingkan menelusuri buku, jurnal, atau sumber lain secara manual. Seorang informan menjelaskan bahwa ia lebih memilih berpikir sendiri terlebih dahulu. Ketika sudah mengalami kebuntuan dan merasa sangat lelah, barulah ia menggunakan ChatGPT untuk memperoleh “pencerahan yang cepat”. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat berfungsi sebagai teman berpikir, tetapi jawaban yang muncul tetap harus dipahami dan dicerna oleh pengguna. Informan lain mengakui bahwa pilihan sumber awal juga dipengaruhi oleh kondisi emosional dan tekanan waktu. Ketika sedang malas, ragu, atau dikejar tenggat, ChatGPT menjadi pilihan pertama. Pola ini memperlihatkan bahwa pencarian informasi tidak selalu berlangsung secara linier.
Mahasiswa dapat memulai dengan pemikiran mandiri, berpindah ke AI, kemudian kembali mencari sumber lain saat jawaban yang diperoleh belum meyakinkan.
BACA JUGA:Kepala Dinas TPHP Bengkulu Sebut Harga TBS Sawit Murah akibat Buah Tidak Bagus
Dari Menelusuri Referensi hingga Menjelajahi Ide
Tahap berikutnya adalah chaining dan browsing. Pada tahap chaining, mahasiswa seharusnya menelusuri informasi lanjutan dengan mengikuti rujukan atau mencari sumber pembanding. Penelitian menemukan dua kecenderungan. Sebagian mahasiswa memeriksa kembali sumber yang dicantumkan, membaca jurnal, atau mengembangkan jawaban awal ke literatur lain. Sebagian lainnya merasa jawaban ChatGPT sudah cukup dan hanya membandingkannya secara singkat melalui Google.
Perbedaan tersebut penting karena jawaban yang terdengar meyakinkan belum tentu didukung oleh sumber yang akurat. AI dapat menghasilkan penjelasan yang runtut, tetapi gaya bahasa yang meyakinkan tidak dapat menggantikan bukti ilmiah. Dalam tugas akademik, sumber tetap perlu ditelusuri sampai pada buku, artikel ilmiah, dokumen resmi, atau penjelasan dosen yang dapat dipertanggungjawabkan. Pada tahap browsing, fungsi AI menjadi lebih luas. Mahasiswa menggunakannya untuk menjelajahi topik, mencari konsep, menemukan teori, menyusun contoh judul, dan memperoleh gambaran awal mengenai struktur penelitian. Dalam konteks ini, ChatGPT tidak hanya berfungsi sebagai alat pencari jawaban, tetapi juga sebagai pemantik gagasan. Teknologi membantu mahasiswa melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya belum terpikirkan.
BACA JUGA:Baznas Pusat Hanya Beri Rekomendasi, Gubernur Tetapkan 5 Pimpinan Baznas Bengkulu
Penyaringan Informasi Menentukan Kualitas Pemanfaatan AI
Manfaat AI menjadi lebih bermakna ketika mahasiswa mampu melakukan differentiating, yaitu menilai relevansi, kredibilitas, dan kesesuaian informasi yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan tersebut belum merata. Sebagian mahasiswa membandingkan jawaban ChatGPT dengan jurnal dan sumber lain, sedangkan sebagian lainnya langsung menggunakannya karena dianggap cukup akurat. Indah, misalnya, mengaku tetap melakukan pemeriksaan ulang. “Setelah dari AI, saya biasanya mengecek lebih lanjut di Google atau jurnal-jurnal,” ujarnya. Wela juga membandingkan hasil ChatGPT dengan aplikasi AI lain, kemudian membaca ulang informasi yang diperoleh.
Berbeda dengan Indah dan Wela, Luki cenderung langsung menerima jawaban dari ChatGPT. “Kalau sudah mencari di ChatGPT, saya tidak mencari ke sumber lain karena menurut saya sudah cukup akurat,” katanya. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama tidak hanya terletak pada keberadaan AI, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa dalam menilai dan memverifikasi informasi. Pada tahap monitoring, mahasiswa kembali menggunakan ChatGPT ketika membutuhkan penjelasan tambahan atau informasi secara cepat. Intensitas penggunaannya berbeda-beda. Indah memanfaatkannya dalam situasi mendesak, sedangkan Wela lebih selektif karena menyadari bahwa jawaban AI tidak selalu relevan dan akurat. Sendi menegaskan bahwa ChatGPT dapat membantu memahami materi dan menemukan referensi, tetapi tidak dapat menggantikan dosen, buku ajar, dan proses berpikir kritis.
BACA JUGA:HUT ke-56, Astra Motor Bengkulu Gelar Aksi Donor Darah Massal
Tahap extracting memperlihatkan bahwa mahasiswa mulai mengambil bagian informasi yang dianggap penting, seperti ringkasan teori, definisi, tahapan penyusunan tugas, gagasan awal, dan penjelasan singkat mengenai konsep yang sulit dipahami. Praktik tersebut dapat meningkatkan efisiensi belajar apabila mahasiswa menyusun kembali informasi dengan bahasanya sendiri dan memahami konteks penggunaannya. Persoalan muncul ketika pengambilan informasi berubah menjadi penyalinan tanpa pemahaman. Tugas memang dapat diselesaikan lebih cepat, tetapi mahasiswa kehilangan kesempatan untuk membaca, menganalisis, menghubungkan gagasan, dan membangun argumentasi. Kemiripan jawaban antarmahasiswa juga berpotensi terjadi ketika pertanyaan yang dimasukkan sama dan keluaran AI diterima tanpa pengolahan.