Kemaruk Politik dalam Pesan Harian UJH, Sindiran untuk Siapakah?

Sabtu 27-04-2024,14:11 WIB
Reporter : Ilham Juliandi
Editor : Wizon Paidi

BENGKULU, BETVNEWS - Ustadz Junaidi Hamzah atau dikenal dengan UJH dalam pesan hariannya membahas soal kemaruk politik yang terjadi dalam perpolitikan akhir-akhir ini di Provinsi Bengkulu.

Menurut Ustadz Junaidi Hamzah, kata kemaruk ini mulanya kemarok. Kemarok menurut bahasanya berasal dari bentuk kata sifat dari kata kerja Kerok atau mengerok (biasa juga kita dengar keruk atau mengeruk) aslinya dari bahasa Jawa. 

BACA JUGA:Pelebaran Jalan Lintas Curup-Lebong Semakin Mendesak Akibat Longsor

"Dalam Bahasa Indonesia artinya menggaruk. Kalau menurut istilah Kemarok adalah sifat atau nafsu seseorang yang berlebihan terhadap makanan. Akan tetapi kata ini berkembang dalam penggunaanya hingga ditempelkan pada sifat seseorang yang sudah terlalu terhadap sesuatu," tuturnya dalam pesan harian, Jumat 26 April 2024.

BACA JUGA:Jalan Lintas Curup-Lebong Kembali Longsor, Badan Jalan Semakin Kecil

UJH mengatakan, saat ini sedang dihadapkan pada situasi kemaruk politik. Sehingga dulu anak SD paham dengan istilah nepotisme. Sekarang sekelas pejabat negara pun linglung dengan kata nepotisme karena kemaruk politik, kekuasaan, harta, dan kedudukan. 

"Pemilu yang baru usai kita lihat kepala-kepala daerah yang berhasil dalam kemaruk ini sehingga memposisikan istri, anak atau menantu dalam posisi tertentu," ujarnya.

BACA JUGA:Teddy Rahman Kembalikan Formulir Pendaftaran Bakal Calon Bupati Seluma ke PDIP dan PAN

Lanjut UJH, bahkan yang sudah jaya, sudah sukses dan diakui oleh masyarakat umum kenudian terkena sindrom kemaruk sehingga ingin mendapatkan yang lebih dari yang didapati selama ini. 

Lalu, apa pandangan Islam terhadap orang-orang yang kemaruk ini. Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

BACA JUGA:Kepala Daerah Dilarang Mutasi ASN 6 Bulan Jelang Pilkada, Melanggar Sanksi Menanti

"Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat. Muttafaqun 'alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048," sampai UJH. (*)

Kategori :