BACA JUGA:Haji 2026 Bengkulu Fokus Layanan Inklusif, 393 Jamaah Kloter Perdana Mulai Perjalanan ke Madinah
BACA JUGA:Sabet National Governance Awards 2026, Kota Bengkulu Jadi Role Model Birokrasi Terbaik Nasional
Ada tekanan yang bekerja secara halus, tuntutan untuk selalu aktif, mengikuti tren, dan menampilkan citra diri yang ideal. Padahal, realitas kehidupan tidak selalu sejalan dengan apa yang ditampilkan di layar.
Ironisnya, dampak dari kondisi ini sering kali dianggap biasa. Rasa lelah, sulit berkonsentrasi, hingga kegelisahan kerap dinormalisasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Padahal, bisa jadi itu merupakan tanda bahwa individu terlalu lama terpapar arus digital tanpa jeda.
BACA JUGA:Terkendala Masalah Irigasi, Realisasi Cetak Sawah 2025 di Bengkulu Baru Capai 86 Hektare
BACA JUGA:Targetkan 1.000 PMI Berangkat Tahun Ini, Pemprov Bengkulu Siapkan KUR Rp20 Miliar
Teknologi sejatinya diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Namun, tanpa kontrol yang tepat, teknologi justru dapat menjadi sumber tekanan baru. Karena itu, kesadaran dalam penggunaan media sosial menjadi hal yang penting.
Membatasi waktu, memberi jeda, dan menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan nyata bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan
Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang meninggalkan teknologi, melainkan tentang bagaimana menggunakannya secara bijak.
BACA JUGA:Kunjungi Bengkulu, Menag Nasaruddin Umar Jadi Khatib Jumat di Masjid Agung At-Taqwa
BACA JUGA:Percantik Wajah Kota, Pemkot Bengkulu Pasang 35 Unit Lampu Hias di Jalan Jenderal Sudirman
Sebab, di tengah kebiasaan scrolling tanpa henti, ada satu hal yang sering terlupakan, pikiran juga membutuhkan istirahat.