Viral Dulu, Kebenaran Belakangan: Bengkulu dan Krisis Nalar di Era Digital
Ilustrasi. Viral Dulu, Kebenaran Belakangan: Bengkulu dan Krisis Nalar di Era Digital--(Sumber Foto: Ronaldo Juliyan Saputra)
BENGKULU, BETVNEWS - Sebuah pesan berantai yang berisi peringatan gempa besar dan tsunami sempat menghebohkan warga Kota BENGKULU.
Informasi tanpa sumber resmi tersebut menyebar cepat melalui grup WhatsApp dan media sosial, memicu kepanikan di tengah masyarakat.
BACA JUGA:Bhayangkari Bengkulu Rayakan HUT YKB ke-46 Bersama Anak-anak Bina Netra
BACA JUGA:Fri Wisdom S. Sumbayak Resmi Jabat Kasi Penkum Kejati Bengkulu
Dalam hitungan jam, pesan tersebut dipercaya dan dibagikan secara luas. Padahal, hingga keesokan harinya tidak terjadi bencana seperti yang disebutkan. Namun dampaknya sudah terasa, rasa takut terlanjur menyebar dan membentuk persepsi kolektif.
Fenomena ini mencerminkan persoalan yang lebih dalam dari sekadar hoaks. Dalam perspektif sosial, kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran cara masyarakat memahami informasi. Batas antara fakta dan opini semakin kabur, terutama di era digital yang serba cepat.
BACA JUGA:Sterilisasi Jalur Depan Masjid Agung, Strategi Polres Seluma Urai Kemacetan Selama MTQ Provinsi
BACA JUGA:Dinas Sosial Bengkulu Selatan 'Ikat Pinggang', Andalkan Digitalisasi di Tengah Defisit Anggaran
Konsep network society yang dikemukakan Manuel Castells menjelaskan, bahwa informasi kini menjadi kekuatan utama dalam membentuk realitas sosial. Namun, di lapangan, kecepatan penyebaran sering kali lebih dominan dibandingkan kebenaran. Informasi yang viral cenderung dianggap valid, meskipun belum tentu terverifikasi.
Hal serupa juga dapat dilihat dari konsep habitus Pierre Bourdieu, di mana kebiasaan membagikan informasi tanpa verifikasi telah menjadi praktik yang dianggap wajar. Banyak masyarakat terdorong untuk ikut menyebarkan informasi karena takut tertinggal, bukan karena telah memastikan kebenarannya.
BACA JUGA:Spesialis Curnak Beraksi di Bentiring Permai, 18 Ekor Ayam Ras Digondol, Korban Rugi Jutaan Rupiah
BACA JUGA:Budaya Digital sebagai Arena Konstruksi Identitas dan Implikasi Terhadap Kesehatan
Data memperkuat kondisi ini. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan penetrasi internet di Indonesia telah melampaui 78 persen populasi. Namun, Indeks Literasi Digital dari Kementerian Komunikasi dan Informatika masih berada pada tingkat sedang, menandakan kemampuan verifikasi informasi belum optimal.
Di Bengkulu, situasi ini menjadi lebih sensitif. Sebagai daerah rawan bencana, isu gempa dan tsunami memiliki dampak psikologis yang besar. Informasi yang tidak akurat dapat dengan mudah memicu kepanikan massal dan mengganggu stabilitas sosial.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

