Bank Indonesia

Budaya Digital sebagai Arena Konstruksi Identitas dan Implikasi Terhadap Kesehatan

Budaya Digital sebagai Arena Konstruksi Identitas dan Implikasi Terhadap Kesehatan

Ilustrasi. Budaya Digital sebagai Arena Konstruksi Identitas dan Implikasi Terhadap Kesehatan--(Sumber Foto: Dela Selvia)

BENGKULU, BETVNEWS - Transformasi digital telah mengubah cara individu berinteraksi dengan membentuk identitas diri. Di Indonesia, laporan DataRepurtal (2025) mencatat sekitar 139 juta pengguna media sosial, atau lebih dari 50% populasi, dengan rata-rata waktu penggunaan mencapai 3 jam perhari.

Media sosial seperti instagram, TikTok, dan X menjadi ruang utama bagi individu untuk menampilkan diri di hadapan publik.

Namun, intensitas penggunaan yang tinggi juga diiringi dengan meningkatnya persoalan kesehatan mental.

BACA JUGA:Jaringan Internet Bermasalah, Disdikbud Kota Bengkulu Gelar TKA Ulang pada 11 Mei

BACA JUGA:Ekonomi Platform dan Ketimpangan Kuasa Buruh Digital

Survei We Are Social (2024-2025), menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berkorelasi dengan meningkatnya perasaan cemas, tekanan sosial, dan kebutuhan validasi digital. Di Indonesia, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa sekitar 1 dari 10 remaja mengalami masalah kesehatan mental, dengan salah satu faktor risikonya adalah paparan media digital yang berlebihan.

Kondisi ini menjukkan bahwa budaya digital bukan hanya ruang komunkasi, tetapi juga arena sosial yang membentuk cara individu memahami dirinya sendiri. Identitas yang ditampilkan di media sosial sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan realitas, melainkan hasil kontruksi yang di pengaruhi oleh standar sosial dan ekspektasi publik.

BACA JUGA:Pemkot Bengkulu Revitalisasi Menyeluruh Pasar Panorama Lewat Skema Inpres

BACA JUGA:Pesanan Sapi di Bengkulu Melonjak, Harga Naik Rp1 Juta Jelang Iduladha 2026

Dalam praktiknya, media sosial berfungsi sebagai “panggung sosial” tempat individu menampilkan identitas diri secara selektif. Pengguna cenderung mengunggah konten terbaik, mengedit foto, serta menyusun narasi kehidupan yang terlihat ideal. Data dari Pew Research Center (2023) menunjukkan bahwa mayoritas pengguna muda mengaku secara sadar mengkurasi citra diri mereka di media sosial untuk mendapatkan respons positif.Fenomena ini berkaitan dengan meningkatnya praktik social comparison.

Studi dalam jurnal kesehatan mental global (2024) menujukkan bahwapaparan terhadap konten ideal di media sosial, terutama pada usia 16-24 tahun. 

Dalam perspektif Erving Goffman melalui teori dramaturgi, interaksi sosial dianalogikan sebagai pertunjukkan teater. Individu bertindak sebagai “aktor” yang menampilkan diri di front stage (ruang publik), sementara menyembunyikan kondisi sebenarnya di back stage (ruang privat). Media sosial memperluas panggung ini secara masif, sehingga individu terus-menerus berada dalam tekanan untuk mempertahankan “peran” yang mereka tampilkan. 

BACA JUGA:Belum Ajukan Pencairan Tahap I, Dana Desa di Rejang Lebong dan Lebong Terancam Hangus

BACA JUGA:ASN Bengkulu Diminta Tetap Gunakan LPG Non-Subsidi Meski Harga Naik Jadi Rp235 Ribu

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: