Bentuk Kepemimpinan Berkarakter Lewat Sekolah Aktivis 2025

Sabtu 18-10-2025,19:38 WIB
Reporter : Diska Ara
Editor : Ria Sofyan

“Kami bukan birokrat, tapi manajemen yang membantu mahasiswa mewujudkan idenya dengan menyelaraskan kegiatan kampus dan pemerintah. Setiap zaman punya tantangannya, dan sekolah ini diharapkan melahirkan pemimpin sesuai zamannya,” ujarnya.

BACA JUGA:Dapat Kucuran Dana Rp216 Miliar, Sekolah Rakyat Permanen Provinsi Bengkulu Dibangun Awal November 2025

BACA JUGA:Pengajian Rutin Merah Putih, Wujud Nyata Kepedulian Pemprov Bengkulu Bantu Rakyat

Dalam sesi pemaparan materi, Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, membahas seputar Aksi Massa. Bahkan, menyinggung fenomena aksi mahasiswa yang berujung pada tindak kekerasan dan perusakan fasilitas umum. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memahami makna dan tanggung jawab dari setiap gerakan mahasiswa di ruang publik.

“Kita tidak bisa membenarkan perilaku frontal seperti kekerasan atau pembakaran fasilitas publik. Itu bukan cerminan mahasiswa yang mengkaji isu terlebih dahulu,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa tindakan anarkis sering kali terjadi karena sebagian mahasiswa turun ke jalan hanya karena terbawa suasana tanpa memahami konteks perjuangan yang sebenarnya.

“Banyak yang ikut aksi hanya karena euforia atau fomo, tanpa tahu substansinya. Padahal aksi massa itu ruang intelektual, bukan ajang pelampiasan emosi,” ucapnya.

BACA JUGA:Kerupuk Baruna Usaha Rumahan yang Tetap Eksis Sejak 1970

BACA JUGA:Hadirkan Nuansa Tempo Doloe, Kafe Semoga Berkah Jadi Tempat Nongki Favorit Anak Muda hingga Tua di Bengkulu

Meski begitu, Muzammil memahami bahwa kemarahan mahasiswa muncul dari rasa kecewa karena aspirasi mereka tidak lagi didengar. Namun, ia menegaskan bahwa ekspresi kekecewaan tidak seharusnya dilakukan dengan kekerasan atau ucapan kasar.

“Mungkin itu bentuk kekesalan karena suara mereka tidak didengar, tapi bukan berarti kita bisa melampiaskannya dengan cara yang salah. Mahasiswa harus tetap menunjukkan karakter intelektual dan menjaga etika di lapangan,” katanya.

BACA JUGA:UKM Kerohanian KBM Unib Ajak Mahasiswa Suarakan Solidaritas untuk Palestina

BACA JUGA:Gagal Bawa Timnas Indonesia Lolos Piala Dunia 2026, Patrick Kluivert Resmi Out!

Muzammil juga mengingatkan agar kejadian semacam itu tidak membuat mahasiswa kehilangan semangat untuk turun aksi dan bersuara. Menurutnya, aksi massa tetap menjadi bagian penting dari perjuangan, selama dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab.

“Jangan karena kesalahan segelintir orang, kita jadi malas bersuara. Selama ada konsolidasi, ikuti. Ada aksi, tetap turun dengan cara yang sadar dan bermartabat,” tutupnya.

BACA JUGA:Cabor Catur Bengkulu Sumbang Medali Emas di Pornas Korpri 2025

Kategori :