Hari Buruh, Dari Jurnalis Daerah Untuk 'Kepala Negara'
Hari Buruh, Dari Jurnalis Daerah Untuk 'Kepala Negara'--(Sumber Foto: Edwin/BETV)
Padahal, ini bukan sekadar soal bisnis media. Ini soal keberlangsungan salah satu pilar demokrasi.
Ketika media melemah, ruang publik ikut menyempit. Informasi menjadi timpang. Kontrol sosial perlahan memudar. Dan yang paling berbahaya, suara masyarakat bisa hilang tanpa jejak.
BACA JUGA:Dikurung dalam Ruangan dan Diancam, 7 Wartawan Korban Intimidasi Kadis PMD Kepahiang Lapor Polisi
Ironisnya, mereka yang selama ini menyampaikan suara itu para jurnalis justru kini kesulitan menyuarakan nasibnya sendiri.
Seorang wartawan yang setiap hari menulis tentang penderitaan orang lain, kini harus pulang ke rumah dengan kecemasan yang sama: bagaimana memberi makan keluarga? bagaimana membayar kebutuhan hidup yang terus berjalan tanpa kompromi?
Hari Buruh seharusnya menjadi momen untuk merayakan kerja dan memperjuangkan kesejahteraan. Tapi bagi kami, ini adalah pengingat bahwa ada kelompok pekerja yang perlahan terpinggirkan, tanpa sorotan, tanpa perlindungan yang memadai.
Kami tidak meminta kemewahan.
Kami hanya ingin dihargai sebagai pekerja yang menjalankan tanggung jawabnya.
Kami hanya ingin kepastian atas apa yang menjadi hak kami.
Dan lebih dari itu, kami ingin negara menyadari bahwa menjaga media tetap hidup adalah bagian dari menjaga demokrasi tetap bernapas.
Karena jika suatu hari ruang redaksi benar-benar sunyi, bukan hanya kami yang kehilangan pekerjaan.
Tapi kita semua akan kehilangan "suara".
Selamat Hari Buruh
Bengkulu, 1 Mei 2026
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

