Petani Enggan Memanen Buah, Toke Sawit di Seluma Terancam Bangkrut
Petani Enggan Memanen Buah, Toke Sawit di Seluma Terancam Bangkrut--(Sumber Foto: Ary/BETV)
SELUMA, BETVNEWS – Badai anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di wilayah Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, kian menekan ekosistem niaga lokal.
Imbas guncangan harga yang merosot tajam dalam dua pekan terakhir ini, barisan toke alias pengepul sawit di tingkat hilir kini dilaporkan menjerit hingga terancam gulung tikar.
Fluktuasi negatif harga komoditas hijau ini ditengarai merupakan rembetan dari kebijakan pemerintah pusat yang memberlakukan skema ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan mineral melalui satu pintu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Kebijakan tersebut berdampak linier terhadap koreksi harga jual kelapa sawit di tingkat petani yang merosot ke titik terendah.
Menyikapi hantaman harga tersebut, mayoritas petani sawit di Kabupaten Seluma kompak mengambil tindakan pasif dengan membiarkan buah sawit membusuk di pohon dan enggan melakukan pemanenan.
Langkah dilematis ini diambil lantaran kalkulasi hasil penjualan dinilai tidak lagi mampu menutupi biaya operasional upah panen dan perawatan. Mogok massal tingkat petani ini otomatis memutus rantai pasok para pengepul yang kini mulai kering pasokan TBS.
BACA JUGA:Sempat Anjlok ke Rp1.800, Kini Harga TBS Kelapa Sawit di Bengkulu Selatan Mulai Merangkak Naik
BACA JUGA:Ombudsman Bengkulu Warning Pelaksana SPMB 2026, Minta Jalur Prestasi Transparan Sejak Awa
Salah satu pengepul sawit di kawasan Desa Kota Agung, Kecamatan Seluma Timur, Kabupaten Seluma, Fauzan Azima, membeberkan bahwa harga TBS sawit yang sempat perkasa di angka Rp2.800 per kilogram, kini terjun bebas ke kisaran Rp1.200 hingga Rp1.500 per kilogram.
"Harga sawit turun drastis membuat petani tidak mau panen, sehingga toke juga ikut terdampak karena barang sedikit. Harapannya harga bisa normal kembali seperti dulu hingga mencapai Rp3.000 per kilogram," ujar Fauzan.
Fauzan menguraikan, kelangkaan stok buah dari petani berimbas langsung pada penurunan tajam volume pengiriman logistik ke pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS).
Jika dalam kondisi normal lini usahanya mampu memasok hingga delapan ton TBS dalam sekali angkut, kini aktivitas ritme pengirimannya drop drastis di angka satu sampai dua ton saja.
"Kondisi ini sangat terasa bagi para pengepul. Biasanya kami rutin mengirim sawit ke pabrik, sekarang pasokan sangat minim karena banyak petani memilih menunda panen," tambahnya.
Fauzan menambahkan, terjunnya harga TBS sawit kali ini benar-benar memukul daya beli dan sendi perekonomian vertikal masyarakat Kabupaten Seluma yang mayoritas menggantungkan hidup pada sektor ini.
BACA JUGA:Cabai Masih Stuck di Rp80 Ribu/Kg, Ini Daftar Harga Sembako di Seluma Usai Idul Adha
BACA JUGA:Klarifikasi Isu Viral, Kades Talang Giring Tepis Dugaan Perselingkuhan dan Penyelewengan Dana Desa
Pasalnya, perputaran uang dari komoditas sawit tersebut selama ini menjadi penopang utama pemenuhan kebutuhan dapur rumah tangga, biaya pendidikan anak, hingga pemenuhan kewajiban angsuran kredit masyarakat di perbankan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: