Dibalik Layar yang Menyala: Media Sosial dan Potensi Tersembunyi Prestasi Mahasiswa

Rabu 06-05-2026,17:01 WIB
Reporter : Cristy Happy Sinaga
Editor : Ria Sofyan

BETVNEWS - Laporan Digital 2026 Indonesia yang dirilis Data Reportal mencatat bahwa jumlah pengguna media sosial di Indonesia saat ini mencapai 180 juta pada akhir 2025, tumbuh 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di balik angka yang mencengangkan itu, terdapat sebuah kenyataan yang kerap luput dari perhatian publik, yaitu sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa yang diam-diam sedang mengubah cara mereka belajar, bertukar pikiran, dan mengakses pengetahuan.

Sementara narasi dominan masih memposisikan media sosial sebagai musuh produktivitas akademik, bukti-bukti di lapangan justru menunjukkan arah yang berlawanan bahwa platform digital ini, bila digunakan dengan niat yang tepat, berpotensi menjadi salah satu instrumen pembelajaran paling efektif yang pernah ada.

BACA JUGA:Resign Paksa dan Hidup sebagai Anak Gig: Kisah Gen Z Bertahan di Tengah Ombak PHK

Pertanyaan yang selama ini salah diajukan adalah “seberapa lama mahasiswa menggunakan media sosial?” Seharusnya, pertanyaan yang lebih tepat “untuk apa mereka menggunakannya?” Durasi tanpa konteks adalah data yang setengah jadi.

Berdasarkan laporan We Are Social dan Meltwater, sebanyak 47,1 persen pengguna media sosial Indonesia mengaku aktif mencari konten berupa artikel maupun video, sementara 41,8 persen menggunakannya untuk membaca berita dan informasi. Data ini mengungkapkan sesuatu yang signifikan, media sosial di Indonesia telah jauh melampaui fungsinya sebagai sarana hiburan semata. Ia telah bertransformasi menjadi salah satu kanal utama dalam mengonsumsi pengetahuan dan bagi mahasiswa, transformasi ini membuka peluang belajar yang tidak pernah tersedia sebelumnya.

BACA JUGA:Transformasi Digital Tanpa Pemerataan, Solusi atau Ilusi?

Pemahaman ini menjadi lebih tajam ketika dikaji melalui lensa sosiologi modern. Manuel Castells dalam teorinya tentang network society menegaskan bahwa masyarakat kontemporer diorganisasikan di sekitar jaringan informasi, di mana pengetahuan tidak lagi terpusat pada institusi formal seperti universitas, melainkan mengalir bebas melalui simpul-simpul koneksi digital. Dalam kerangka ini, mahasiswa yang memanfaatkan media sosial secara aktif dan terarah sejatinya sedang berpartisipasi dalam ekosistem pengetahuan yang jauh lebih luas dari ruang kuliah manapun. Mereka tidak sedang membuang waktu mereka sedang membangun akses terhadap modal intelektual yang bersifat global, real-time, dan tanpa biaya.

Teori modal sosial Pierre Bourdieu memperkuat perspektif di atas. Bourdieu berargumen bahwa jaringan sosial adalah aset yang dapat dikonversi menjadi keuntungan nyata, termasuk dalam bidang pendidikan. Ketika mahasiswa berdiskusi tentang materi kuliah di grup WhatsApp, berbagi ringkasan jurnal melalui Instagram, atau menemukan penjelasan konsep yang sulit melalui konten di YouTube dan TikTok, mereka secara aktif membangun apa yang oleh Bourdieu disebut sebagai capital social suatu bentuk kekayaan relasional yang berpotensi langsung meningkatkan kapasitas akademik mereka. Media sosial dalam hal ini bukan distraksi; ia adalah medium pembangunan jaringan intelektual yang bersifat organik dan berkelanjutan.

BACA JUGA:Harmonisasi Program Kemanusiaan, KemenHAM dan Kemensos di Bengkulu Perkuat Koordinasi Kelembagaan

TikTok dan YouTube, dua platform yang paling sering dijadikan kambing hitam atas merosotnya kualitas belajar generasi muda justru kini menjadi dua dari kanal distribusi konten edukatif terbesar di dunia. Kuliah umum dari universitas-universitas terkemuka, tutorial akademik lintas disiplin, hingga pembahasan karya ilmiah dikemas dalam format ringkas dan menarik tersedia bebas di kedua platform ini. Algoritma rekomendasi yang terus belajar dari perilaku pengguna bahkan memungkinkan setiap mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang dipersonalisasi sesuatu yang tidak pernah bisa ditawarkan oleh silabus konvensional manapun.

Hanya saja yang membedakan mahasiswa berprestasi tinggi dengan yang tidak dalam konteks penggunaan media sosial, bukanlah semata soal frekuensi atau durasi akses.

Perbedaannya terletak pada kesadaran dan intensionalitas di balik setiap sesi penggunaan. Mahasiswa yang membuka TikTok dengan tujuan spesifik untuk memahami konsep yang belum dikuasai akan mendapat manfaat yang berbeda secara fundamental dibandingkan dengan yang membuka aplikasi yang sama tanpa arah.

Perbedaan ini bersifat sosiologis sekaligus psikologis, ia berkaitan erat dengan bagaimana individu mengonstruksi makna dari teknologi yang mereka gunakan prinsip inti dari teori interaksionisme simbolik Herbert Blumer.

BACA JUGA:Melihat Bukan Lagi Bukti: Deepfake dan Krisis Kepercayaan di Era Digital

Kategori :