Implikasinya bagi institusi perguruan tinggi sangat jelas. Sikap pasif baik berupa larangan penggunaan gawai di ruang kelas maupun pembiaran tanpa panduan apapun adalah dua ekstrem yang sama-sama gagal menjawab realitas, yang dibutuhkan adalah integrasi literasi digital ke dalam kurikulum secara serius dan terstruktur, mengajarkan mahasiswa cara memilih sumber yang kredibel, mengelola waktu digital secara produktif, dan mengubah kebiasaan konsumsi konten pasif menjadi eksplorasi aktif yang bermakna secara akademik. Bukan melarang media sosial, melainkan mengarahkan potensinya.
Teori fungsionalisme struktural Émile Durkheim memberi fondasi reflektif yang kuat di sini. Durkheim menekankan bahwa institusi pendidikan berfungsi membekali individu dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh zamannya. Dalam masyarakat digital abad ke-21, kompetensi itu tidak lagi cukup hanya berupa penguasaan ilmu di dalam kelas ia harus mencakup kemampuan menavigasi ekosistem informasi digital secara kritis dan produktif. Perguruan tinggi yang mengintegrasikan literasi digital ke dalam sistem pendidikannya tidak sedang mengikuti tren, mereka sedang menjalankan fungsi dasarnya dengan cara yang relevan terhadap konteks zamannya.
BACA JUGA:Bersama OPD dan Wartawan, Kejari Kepahiang Berkomitmen Berantas Praktik Pemerasan
Pada akhirnya, perdebatan tentang media sosial dan prestasi akademik tidak dapat diselesaikan dengan jawaban hitam-putih. Variabel penentunya bukan platformnya, bukan durasinya, dan bukan pula usianya melainkan niat, kesadaran, dan kompetensi pengguna di balik layar.
Media sosial adalah infrastruktur sosial yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa Indonesia hari ini. Pertanyaannya bukan apakah mereka akan terus menggunakannya jawabannya sudah pasti ya.
BACA JUGA:Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Pemkot Bengkulu Gelar Rakor Pemutakhiran DTSEN 2026
Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah ekosistem pendidikan kita siap untuk menjadikan berjam-jam di media sosial itu sebagai waktu yang benar-benar produktif dan bermakna secara akademik.
Jika jawabannya iya, maka IPK bukan hanya bisa naik, ia bisa menjadi cerminan nyata dari generasi yang paling terhubung sekaligus paling terdidik dalam sejarah bangsa ini.