Hakikat Haji: Pelantikan Menjadi Dai dan Kebangkitan Peradaban Masjid
Hakikat Haji: Pelantikan Menjadi Dai dan Kebangkitan Peradaban Masjid--(Sumber Foto: Saeed)
Oleh: Saeed Kamyabi
BETVNEWS - Setiap tahun, lebih dari 200 ribu umat Islam Indonesia pulang dari Tanah Suci dengan membawa gelar haji. Namun, ada satu pertanyaan besar yang jarang kita renungkan: apa sesungguhnya tujuan Allah memanggil mereka datang ke Baitullah?
Apakah hanya sekadar agar nama mereka berubah menjadi “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”? Apakah cukup hanya dengan membawa oleh-oleh, air zamzam, dan koleksi foto kenangan di depan Ka’bah?
Tentu tidak.
Haji bukan sekadar ritual peribadahan semata, melainkan momen pelantikan ruhani terbesar dalam kehidupan seorang muslim. Ketika seseorang menyelesaikan rangkaian thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, hingga melempar jumrah, ia sebenarnya sedang menempuh pendidikan kepemimpinan bagi umat.
Saat ia kembali ke kampung halaman, ia tidak lagi berstatus sebagai wisatawan spiritual, melainkan telah diamanahi tugas baru: menjadi dai, penggerak masjid, dan pembangun peradaban.
Madinah yang Dulu Sederhana, Kini Menjadi Pusat Dunia
Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, kota itu sama sekali bukan pusat kekuatan dunia. Ia tidak memiliki kemewahan istana layaknya bangsa Persia, pun tidak memiliki kekuatan militer sebesar Kekaisaran Romawi.
Namun, tahukah Anda apa yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah saat tiba di sana? Bukan pasar untuk mengumpulkan kekayaan, bukan benteng pertahanan, dan bukan pula gedung pemerintahan. Yang dibangun pertama kali adalah masjid.
Masjid Nabawi kemudian menjadi jantung dari seluruh aktivitas umat. Di sana berlangsung ibadah, pendidikan, pengelolaan ekonomi, musyawarah rakyat, penyelesaian konflik, hingga penyusunan strategi membangun masyarakat. Dari bangunan sederhana yang beratapkan pelepah kurma itu, lahirlah generasi hebat yang kelak mengubah peta sejarah dunia.
Dalam waktu yang sangat singkat, Madinah yang dulunya penuh pertikaian antar-suku, bertransformasi menjadi pusat peradaban yang memimpin seluruh Jazirah Arab. Semuanya bermula dari satu titik: masjid yang dimakmurkan.
Al-Azhar: Dari Tempat Ibadah Menjadi Mercusuar Ilmu
Kisah serupa juga tercatat dalam sejarah Masjid Al-Azhar di Mesir. Awalnya, tempat itu hanyalah bangunan tempat umat bersujud.
Namun, karena diisi dan dimakmurkan dengan ilmu pengetahuan, dakwah, dan pendidikan, masjid itu tumbuh dan berkembang menjadi pusat keilmuan Islam terbesar yang namanya dikenal di seluruh penjuru bumi. Ribuan ulama dan pemikir besar lahir dari sana, dan pengaruhnya menjangkau benua-benua.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: